ketidaksempurnaan rasa dalam cakrawala aksara .

Sabtu, 28 September 2013

tergantikan ?




Seperti malam yang selalu mendingin di kota ini. Mencari kehangatan di sela keramaian yang semakin memudar. Seperti itulah aku, mencarimu yang semakin menjauh.

Aku pernah terbang, tidak begitu tinggi. Belum pernah setinggi ini, dan aku suka terbang. Aku juga pernah jatuh, dalam. Tapi aku salah mengartikan dalam setelah jatuhku yang ini, namun aku sudah mulai terbiasa. Oleh orang yang sama, kamu.

Atas nama waktu, kamu membuat semua sangat berarti. Membuat diriku buta, dari dunia selain kamu. Aku mengenalmu tidak setahun dua tahun. Aku kamu cintai tidak dua atau tiga tahun. Ya, aku yakin itu. Mungkin karenanya aku memasrahkan segala kepercayaan yang kuhadiahkan cuma-cuma tanpa jaminan apa-apa. Aku suka hujan, malam, langit dengan bintang, dingin, alam, kertas lipat.. semua kamu tahu. Kamu paham akan itu, akan aku.

Kamu berikan semua, waktu, hari, diri, kasih, dan segala yang bisa kulucuti tanpa kamu mencoba memberikan perlawanan. Aku yang belum pernah terbang, kamu ajak serta terlalu tinggi. Kamu pinjamkan sayapmu, kamu tengadahkan lengan untukku bersandar, kamu letakkan aku pada zona nyamanmu. Dimana semua terasa mudah dan selalu ada.

Kamu berikan semua, waktu, hari, diri, kasih, dan segala yang bisa kulucuti tanpa kamu mencoba memberikan perlawanan. Aku yang belum pernah terbang, kamu ajak serta terlalu tinggi. Kamu pinjamkan sayapmu, kamu tengadahkan lengan untukku bersandar, kamu letakkan aku pada zona nyamanmu. Dimana semua terasa mudah dan selalu ada.

Kamu bilang kurang suka aku membaca, kamu bilang aku novel. Kamu juga kurang suka aku tanya kenapa kamu menghilang. Kamu tidak suka dicari, kamu tidak suka dipaksa menghubungi. Kamu tidak suka ponsel mu di tanganku, tapi kamu suka mencari bahan untuk apa saja yang bisa kamu tpersoalkan dari ponselku. Kamu tidak suka aku pintar. Kamu tidak suka aku bawel atau nyerocos membela diri. Kamu tidak suka aku yang lebih dari kamu.

Oke, aku berusaha menyanggupimu. Alih-alih belajar menjadi apa yang kamu suka, aku merasa aku berubah. Bukan aku dan kebiasaanku. Aku menjadi aku versi kamu. Aku menjadi menyebalkan untuk diriku sendiri.

Dan sudah bukan rahasia, setiap perubahan pasti beralasan. Seperti perubahanmu yang belakangan jika menerbangkanku sudah tidak setinggi dulu. Tentang lengan yang sudah mulai renggang menengadah untuk sandaran kepalaku. Atau kata yang biasa terlampir panjang dalam layar ponsel dan membuatku berani terbang sendiri.

Ya, benar.. semuanya telah terbagi. Bukan cuma aku, bukan hanya diriku yang kamu ajak terbang, yang kamu beri pinjaman sandaran.

Lalu aku jatuh. Sendiri. Kali ini tanpa kamu, tanpa kamu ajari, namun kamu biasakan. Awalnya aku kualahan, karena memang belum pernah jatuh sekompleks ini lukanya. Dan entahlah seberapa lama bertahan basah. Terkena udara, lalu digerogoti belatung dan membuat lukanya semakin menganga.

Aku belajar banyak hal dari waktu belajar terbang yang kamu berikan terlalu singkat itu. Bahwa ada kalanya sayap lelah untuk mengepak, atau bahu yang terkadang lelah untuk menopang. Aku kemudian mengerti, lagi.
Dalam masa transisi diri, aku akui aku masih sering menoleh, mengharap dan berdoa untuk kembalinya kamu. Aku masih gila.. aku masih belum bertujuan.
Disisi lain ada sebuah, atau mungkin lebih tepat dikatakan sebagai seorang. Sedang memproyeksikan dirinya padaku, tidak pernah jemu meski telah menahun berlalu. Dia, yang juga selalu ada, sangat lama.
Entah harus kugambarkan bagaimana makhluk satu ini. Mungkin seperti menu istimewa rumah makan yang jarang sekali dibeli orang karena harganya yang mahal dan menyenangkan bisa menikmatinya.
Dia tidak sepintar kamu dalam berbicara. Tapi dia juga pintar berbicara, dia pintar jujur dan dia terlalu polos untuk bersanding dengan kamu yang sudah berkelas kakap dalam hal apa saja. Dia tidak segila kamu, tidak se-apa-sajanya kamu. Tapi dia itu dia. Menyenangkan, meski tidak semenyenangkan kamu.
Aku suka lucu sendiri melihatnya jaim ketika bersamaku. Melihat dia mengunyah sesuatu dengan rapi, melihat kebulan asap perokok profesional dari mulutnya, melihatnya yang setengah gugup melihatku keluar rumah setelah berdandan, melihatnya yang kadang berusaha jadi apa yang aku ingin dia lakukan meskipun itu bukan dia.
Dia suka mengelus-elus kakiku, dia suka mengejekku hingga aku kesal, dia suka menjemputku dari manapun aku, dia suka mengantarkanku ke dokter, dia suka menemaniku yang sedang uring-uringan, dia suka menyempatkan waktu sesempit apapun untuk menemuiku,dia suka menggombal gagal, dia suka berbahasa inggris dan membuatku melayang, dia suka melihatku melawan angin dan berteriak aku senang,  dia suka melihatku yang sedang melihat bulan, dia suka dicari, dia suka, sangat suka aku.
Dia bilang aku bodoh, aku idiot, aku tidak pintar berbohong, aku pandai membuatnya merasa berarti, pandai membuatnya gugup, pandai menyenangkannya, dan pandai membuatnya jatuh.. cinta.
Mungkin aku tidak melihat proyeksimu di dirinya, dia jadi sesuatu dengan berdiri sendiri, dia jadi sesuatu yang aku suka, terlepas dari aku yang menyukaimu. Dia selalu masa bodoh dengan perasaan yang aku punya, tangannya tidak lancang pada ponselku, dia hanya suka aku. Dia juga suka membelikanku es krim, sama sepertimu. Dia juga suka melihatku makan lahap lalu gemas dengan perutku yang membuncit, sama seperti yang pernah kamu bilang. Tapi dia suka aku bawel, tidak sepertimu. Dia suka keakuanku.
Dan mungkin kini dia yang mengajarkanku terbang tanpa sayap pinjaman, tapi dia ada di sampingku untuk berjaga-jaga. Dia tidak menyewakan pundaknya, tapi dia memelukku ikhlas.
Dia yang selalu ada tanpa aku pertimbangkan, yang menutupi segala kekurangan, dia penyembuh luka, dan dia yang sedang dalam perjalanan pulang, menuju aku.

Ada asap yang lebih hangat, ada kebersamaan yang lebih menyenangkan, ada hidup yang sudah mulai memiliki tujuan, ada jati diri yang mulai ditemukan. Olehnya, yang kini sudah menjadi kamu, menjadi kita, dan menjadi aku.
  





 

0 komentar:

Posting Komentar

Blog List

Pages

© My Whole Trash, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena